Pages

Jumat, 02 November 2012

Ketika Papa Berhenti Kerja ( Tulisan 3 )


Pulang kerja Papa mengumpulkan kami di ruang tengah. Ruang kecil yang biasanya hangat, malam ini terasa begitu menegangkan. Papa menarik nafas dan memandangi kami satu per satu. Dari raut wajahnya, kulihat ada gurat kesedihan. Aku pun menjadi resah.
            “Mulai minggu depan, Papa berhenti kerja,”kata Papa dengan nada pelan, namun membuat kami semua termangu. “Penjualan perusahaan terus menurun. Manajemen memutuskan untuk memberhentikan separuh karyawan, Papa salah satunya.”
            “Pa, bagaimana nasib kita kalau Papa berhenti kerja?” tanyaku gundah.
            Terbayang olehku kehidupan buruk yang akan menimpa kami kelak.
            Mama yang duduk di sisiku, seketika memelukku.
            “Papa dan Mama akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kalian. Betul, kan, Pa?” Kata mama.
“Papa akan berusaha mencari pekerjaan yang baru”, kata Papa meyakinkan kami. “Lagipula, perusahaan memberikan pesangon yang cukup sampai Papa mendapatkan pekerjaan yang lain.”
            Aku dan adikku, Riana, sedikit bernafas lega setelah mendengar perkataan Papa. Apalagi, Mama menambahkan akan membantu Papa dengan menerima pesanan kue dari para tetangga. Kue kering dan bolu buatan Mama sangat lezat dan gurih. Banyak yang menyukainya. Mama yakin, order kue bisa membantu keluarga kami.
            “Tapi ...” Papa menatapku dan Riana bergantian. “Papa minta kalian berdua untuk mulai berhemat. Jajan yang tidak perlu, lebih baik di kurangi. Pulsa handphone juga tidak ada lagi. Buku cerita dan majalah anak juga akan di batasi.”
            Haaah? Aku dan Riana terpana. “Untuk jajan, baiklah, aku dan Riana bisa menguranginya. Pulsa handphone juga tidak masalah. Selama ini, teman-temanku hanya menelpon untuk hal-hal yang sangat perlu. Tetapi untuk buku cerita dan majalah anak?” Tanyaku.
            “Pa, Riana sama kak Mia, kan, suka membaca ! Masa kami tidak boleh membaca cerita anak-anak lagi?” Protes Riana. Aku pun mengangguk setuju.
            Papa memandang Mama yang di balas dengan senyuman. Seakan mereka merahasiakan sesuatu. Aku dan Riana jadi penasaran.
            Keesokan malamnya, Papa dan Mama membuka rahasia. Aku dan Riana terkejut ketika Papa mengeluarkan setumpuk klipingan majalah.
            “Ini puluhan cerita anak hasil karya Papa yang dulu dimuat di majalah anak-anak”, Papa memberitahu sambil menaruh klipingan itu di meja.
            Aku dan Riana pun berebut melihatnya. “Wah, benar, ada nama Papa ! Kok, kami tidak pernah di beritahu sebelumnya?” Tanyaku.
            Mama pun mejelaskan kepada kami. “Sebelum menikah, Papa adalah penulis cerita anak yang produktif. Namun setelah berkeluarga, Papa tak punya waktu lagi untuk menulis. Papa terlalu sibuk berkerja. Papa memang sering pulang larut malam. Bahkan kadang pada hari Sabtu, Papa juga masuk kantor.”
            “Oh, karena itu Papa akan mengurangi jatah buku cerita kami !” tebakku. “Karena Papa akan membuatkan kami cerita anak yang indah. Iya kan, Pa?” Tanyaku.
            Papa mengiyakan. Aku dan Riana melonjak senang. Kami tak sabar ingin membaca cerita-cerita baru buatan Papa. Untuk sementara ini, kami bisa membaca klipingan cerita-cerita Papa yang pernah dimuat di majalah anak.
            Sejak saat itu, Papa mulai rajin menulis lagi. Ia menulis buku untuk di kirimkan pada penerbit. Ia juga sering membuatkan cerita anak-anak untuk kami. Kemudian Papa mengirimkan cerita-cerita tersebut ke majalah anak.
            Akan tetapi, semua tak semudah yang ku kira. Cerita Papa lama sekali baru di muat. Buku yang Papa tulis juga belum ada kabar beritanya. Sedangkan pesanan kue Mama tak sebanyak yang kami duga. Sementara tabungan dari pesangon Papa semakin menipis. Padahal, setiap bulan, Papa harus membayar cicilan rumah, cicilan sepeda motor, biaya sekolah untukku dan Riana serta untuk keperluan sehari-hari.
            Aku dan Riana hampir putus asa. Tetapi Papa dan Mama berusaha membesarkan hati kami. Mereka berdua tetap bekerja keras. Aku sering memergoki Papa mengetik cerita sampai larut malam atau mengirimkan surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Mama juga pagi-pagi sekali sudah di dapur untuk membuat pesanan kue dari tetangga.
            Kami sekeluarga berusaha lebih berhemat. Kami menggunakan listrik, air, dan telepon seperlunya. Kami juga makan seadanya. Aku dan Riana tidak hanya menghemat uang jajan, tetapi juga ongkos untuk ke sekolah. Sedapat mungkin kami tidak naik angkot atau ojek. Kami lebih memilih berjalan kaki atau naik sepeda.
            Hingga suatu sore, Papa menerima telepon dari sebuah lembaga kursus. Ia di terima bekerja sebagai pengajar paruh waktu di lembaga tersebut. Aku dan Riana bersyukur dan senang mendengarnya. Papa akan mempunyai banyak waktu untuk bersama keluarga karena hanya bekerja paruh waktu. Lain hari, giliran Mama yang memberi kabar bahagia.
            “Mama menerima pesanan kue dalam jumlah yang besar !” Kata Mama dengan wajah gembira.
            Minggu berikutnya, Papa di telepon perusahaan penerbitan. Mereka memberitahu bahwa buku cerita Papa akan di terbitkan. Rangkaian peristiwa yang luar biasa terjadi di dalam keluarga kami. Usaha serta kerja keras Papa dan Mama akhirnya membuahkan hasil.
            Ketika Papa berhenti kerja, aku mengira keluarga kami akan bernasib buruk. Tetapi ternyata, semua baik-baik saja selama kami tidak berputus asa.

Nama   : Mia Rusliana
Kelas   : 2 SA04
NPM   : 14611454

0 komentar:

Posting Komentar